Feeds:
Posts
Comments

“asiiiiikk….akhirnya aku ke Bali juga!”

 

Dari kecil, kesempatan diajak papa mama ke bali aku sia-siakan. Begitu hari H keberangkatan, aku ngerengek minta ikut papa, mama dan kaka perempuanku yg saat itu diajak langsung mau. Huuuuaa… :’( nyeseel. Mereka tetep harus berangkat karena tiket sudah dibeli dan aku bersama kakaku yang cowo terpaksa dirumah berasama uwa (bahasa sundanya untuk kaka dari ortu).

 

Nah!..sekarang kebetulan aku udah kerja, jadi udah punya uang sendiri. Waktunya menikmati liburan dengan jerih payah sendiri.

“Baliiii…here i comeeee….” :D

———————-

Aku sama 2 orang teman LV dan DM sudah beli dari jauh-jauh hari tiket promo AirAsia. Kebetulan kita dapet tiket ekonomi promo, PP 800rb. Lumayan murah, pikirku. Lalu aku menghubungi kawan lama yg kira-kira 6 tahun tidak pernah ketemu dan dia asli orang Bali. Saat kenal dia (G.W) aku masih kuliah, dan dia masih kelas 3 SMP. Dia adalah teman chattingnya teman deket kuliahku (AD). Hehe, bingung ya?…tapi yg jelas anak ini baik sekali, seingatkupun meskipun masih kecil, G.W sudah terlihat cantik. Hmm..seperti apa ya dia sekarang?… karena akupun hanya sebatas ngobrol via chat room. Dia ini sahabatnya temanku (AD). Dengan bantuan teman dekat kuliahku itu (AD), akhirnya aku diberikan kemudahan.  Masalahnya, tiket penerbangan kita itu landingnya malam hari di bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Jadi bakalan repot harus bermalam dimana. Dikarenakan saat itu adalah peak season, hotel-hotel sudah penuh, sehingga dia (G.W) susah untuk mencarikan kita hotel yg sesuai dengan budget kita. Jadi sampai hari keberangkatan, kita belum dapat kamar. Untungnya dia mempersilahkan kita bermalam dirumahnya.

 

Sebelum boarding, aku menyempatkan untuk memberi info bahwa kita akan berangkat kesana. Sungguh baik sekali, G.W sengaja membelikan nasi bungkus ala Bali untuk kita bertiga, diapun sabar menunggu sampai larut malam.

 

Sesampainya di bandara I Gusti Ngurah Rai, kitapun sudah dijemput oleh mantannya temanku itu (AD). Hihihi…memang orang-orang bali itu baik-baik sekali. “Thanks to AD, G.W and GD!” untuk semua kebaikannya.

 

Didalam perjalanan, GD menawarkan juga menginap di rumah ke-2 milik keluarganya yg letaknya tak jauh dari rumah inti. Kebetulan, ibunya sudah mempersilahkan kita katanya. Woow, mendengar itu kita mendadak bingung, ko baik sekali, padahal baru pertama kali kita semua ketemu sama sosok mantannya temanku itu. Dengan segala respect, kita tolak tawarannya dengan alasan, kita sudah lebih dulu janjian akan bermalam dirumah G.W. Lalu kitapun diantar kerumah G.W.

 

 —————————–

Tiba dirumah G.W. Kita langsung menuju kamar G.W yg sangat nyaman, sambil mengistirahatkan tubuh, tidur-tiduran sambil bercerita seru obrolan wanita hahaha..tak terasa waktu semakin malam, dan kita makin terasa lelah. Akhirnya satu persatu kita mulai tertidur. Ya, besok kita berencana harus mengunjungi tempat-tempat yg bagus di Bali. Aku tak boleh melewatkan moment pertamaku di Bali. Meskipun kondisi badan kurang fit, aku tetap harus paksakan, karena sayang sudah keluar biaya tiket dan jauh-jauh ke sini.

 

—————————–

 

Pagi-pagi kita sudah bersiap-siap. Sambil menunggu G.W sembahyang, tiba-tiba dia masuk ke kamar dengan mengenakan rok putih dan baju putihnya, baju adat yg unik pikirku dalam hati, dia tampak anggun mengenakan baju sembahyangnya tersebut.

 

Kemudian setelah kita semua siap untuk pergi, ternyata sarapan sudah disiapkan dimeja makan, yg tadinya kita pikir kita akan makan diluar. Ternyata G.W malah justru sudah menyediakan sarapan untuk kita. “Baiiiiikknyaa temanku ini”, belum lagi selama kita disini, temanku bersedia mengantar-antar kita ke tempat-tempat wisata yg wajib dikunjungi.

 

Dengan menggunakan mobil Jeep, kita jalan menuju lokasi yg paling jauh dulu dari Denpasar, yakni ke Bedugul. Kira-kira menempuh waktu 1 1/2jam dari Denpasar. Lokasinya diatas, suasananya seperti dipuncak, dingin sekali, saat itu cuacanya agak mendung. Tapi sesampainya kita disana. Kita masih bisa berjalan santai mengikuti jalan aspal, dan mencari tempat untuk santai, sekedar menikmati udara segar dan berfoto-foto.

 

This slideshow requires JavaScript.

Pemandangan danau terlihat dari kejauhan, sambil tertawa-tawa kita asik berfoto-foto sampai akhirnya tak terasa hujan turun rintik-rintik. Momen ceria itu dibubarkan dengan cuaca yg memang tidak mendukung. Akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke mobil, dan meneruskan ke lokasi berikutnya, yaitu Dream Land. Dalam perjalanan turun, kita singgah ke kebun strawberry, dan memutuskan untuk santap siang di restaurant strawberry.

“hmm…pancakes iced strawberrynya enak!”. Setelah lumayan mengisi perut, kita sempet berjalan-jalan melihat kebun. Tidak banyak berfoto-foto disini, tapi lebih menikmati udara sengar dan memanjakan mata.

 

Keesokan harinya…(Melanjutkan perjalanan ke Dream Land). Untuk kesini, nampaknya harus menggunakan mobil pribadi, karena lokasinya lumayan jauh, melewati area tanah yg luas, sampai akhirnya kita sampai ditebing yg berbatu dan penuh debu. Lalu, dimana letak pantainya?…ternyata kita harus menuruni jalan tanah dan berbatu untuk melihat pantai yg posisinya ada dibawah. Dari atas tebing sudah terlihat hamparan laut yg luas. Nama pantai ini adalah Dream Land. Sesuai dengan namanya, tanah impian,..jauh dari kebisingan kota, lokasi dan pemandangannya menyuguhkan hal yg berbeda.

 

Kita sempat bermain-main cukup lama disini, melihat segerombolan pria-pria gemulai membuat kita tertawa melihat tingkah laku mereka. Sambil kita asik berfoto-foto dengan gaya konyol kita dan lagi ada saja kelucuan yg terjadi disaat kita ingin mengabadikan foto bersama, lantas kita meminta seorang anak kecil yg kebetulan lewat disitu untuk fotoin kita. Tanpa aba-aba..dia sudah menjepret momen disaat semuanya belum ada yg siap, wal hasil justru jadi bagus… karena disitu kita seperti difoto candid dengan ekpresi yg memang lagi terlihat senang. “Good Job de! hahaha…”.

 

Asli senang sekali saat itu. Sore hari kita memutuskan untuk pulang. Dengan tubuh berkeringat, kitapun masih harus perjuangan pulang dengan menaiki jalan menanjak dan berbatu, sambil menenteng sandal penuh pasir ditangan masing-masing.  

 

Lalu kita pulang ke penginapan milik temannya G.W. Kita menyewa semalam saja sambil berniat cari-cari penginapan lain yg lebih baik. G.W pun harus kembali pulang kerumahnya. Setelah kita makan malam dijalan, tubuhku mulai terasa letih karena kurang enak badan. Berkali-kali batuk karena angin. Lantas aku memutuskan untuk beristirahat sendirian dikamar, sementara kedua temanku masih mau berjalan-jalan sepanjang kuta-legian-seminyak sambil berbelanja dan mencari-cari hotel lain yg masih tersedia kamar.  Ingin rasanya ikut berjalan-jalan dengan mereka, tapi aku tidak mau memaksakan diri yg memang aku sedang sakit saat itu. Masih dua hari lagi aku harus menyisihkan tenaga untuk bisa terus melanjutkan liburan di Bali.

 

Dua jam berlalu,… tiba-tiba kedua temanku itu datang dengan membawa kabar baik. Mereka menemukan kamar hotel yg tak jauh dari lokasi kita menginap sekarang. Tanpa berpikir lama-lama, kita langsung check-out malam itu juga dan menuju Hotel Simpang Inn.

 

Setelah pindah di hotel bintang dua tersebut. Lantas aku melanjutkan istirahat tidur, sementara kedua temanku masih terus meneruskan perburuannya jalan-jalan sepanjang kuta-legian dan seminyak.

 

Keesokan paginya, sambil menunggu dijemput oleh G.W untuk rencana pergi ke Tanah Lot. Kita menikmati sarapan pagi direstaurant hotel yg posisinya persis dipinggir jalan kuta. Sehingga sambil sarapan, kita dapat menikmati pemandangan jalan Kuta dipagi hari. Hari ini LV harus menemui tantenya, dia tidak ikut dengan kita ke Tanah Lot. Tak lama G.W datang dengan honda Jazz kuningnya, kita siap untuk berangkat.

 

Cuaca sangat terik sekali. Setelah menempuh perjalanan yg tidak terlalu lama, sampailah kita di Tanah Lot. Disini sebenarnya adalah tempat ibadah umat Hindu. Keindahan dari Tanah Lot ini menjadi ciri khas tersendiri karena bangunan pura yang didirikan diatas batu dan disambungkan dengan jembatan penghubung. Apabila air laut sedang pasang, kita tidak dapat menyebrang ke dalam Pura tersebut. Tempat ini banyak dijadikan objek untuk pre-wedding karena view-nya yg bagus.

 

Dikarenakan air laut saat itu sedang pasang, kita tidak dapat menyebrang kedalam pura tersebut. Jadi kita hanya bisa melihat dari sebrangnya dan menyempatkan untuk mengabadikan keindahan Tanah Lot. Meskipun sudah mengenakan payung, duuuh…panasnya bukan main, akhirnya kita istirahat sambil membeli air kelapa di warung-warung yg ada disekitar wisata “hmmm…nikmatt panas-panas begini!”. Perut mulai terasa keroncongan, akhirnya kita memutuskan untuk pulang dari situ menuju restaurant tofu yg berada di daerah Denpasar. Dengan nuansa resto ala bale-bale, kita duduk lesehan, menikmati semilir angin sambil menyantap berbagai jenis masakan dengan bahan semuanya dari Tahu. “mantaabsss!!! uwenaaakknyaa….”.

 

Dari sini kita lanjut menuju Bajra Sandi, entah sebenarnya ini lokasi wisata atau bukan, karena melihat dari bangunan dalamnya seperti kantor dalam negeri, atau museum, tapi yg jelas, architecture design dan bangunan candinya sangatlah unik dan bagus untuk dijadikan objek foto. “Yak..mulailah bernarsis-narsis ria! hahaha…” konsep taman yg cantik dan indah sangatlah mendukung.

 

Setelah hari menjelang sore, kita semua memutuskan untuk pulang. G.W mengantarkan kita dulu menemui LV dan tantenya yg sedang berada di Cafe  Blue Ocean, Seminyak. Lalu dia harus pulang karena keesokan harinya harus kuliah. Sementara kita duduk di cafe tersebut sambil menikmati pizza dan pemandangan sunset di pantai seminyak. Konsep cafe yg cozy dan nyaman, dapat duduk sambil selonjoran ala kursi pantai dengan matras sofa bed. “hahaha..tidur-tiduran jg bisa, yuk mariii!”.

 

Tomorrow will be the last day we are here. Sehari penuh kita pakai untuk berbelanja beberapa souvenir dan kalung-kalung untuk oleh-oleh. Harga kalung di toko-toko sepanjang kuta-legian berfariatif, paling murah kita dapat menawar hingga 8000 rupiah, paling mahal dengan kualitas lebih bagus kita dapat menawar 100rb untuk 4 kalung. Hmmm..saat itu kita semua memborong banyak sekali kalung-kalung, selain untuk koleksi pribadi, sebagian buat oleh-oleh teman kita masing-masing.

 

Penerbangan kita pulang adalah jam 21.00, pesawat airasia sempet delayed hingga pukul 22.00. Hhh…nasib beli tiket promo airasia seperti ini, sering kali delayed dan reschedule. Untungnya, dengan bantuan teman priaku, kita akan dijemput di Bandara Soekarno Hatta, tengah malam wuiiihh. “Hehe..thanks to KV for droping us to the airport, and thank’s to DN for picking up us at the airport” :D

 

The End

lanjut lagi ya…

Setelah lelah tertawa dan mama papaku menenangkan detak jantungnya yg serasa mau copot katanya :D hihi…saatnya untuk makan siang. Saat itu kita membeli Lamb Burger with french fries, “eerrh..rasanya tidak enak, dagingnya masih kecium bau domba..hahaha”, aku tidak habis, jadi aku hanya makan french friesnya saja.

 

Disaat mama dan papaku masih beristirahat, aku tidak bisa diam. Sambil berjalan-jalan disekitarnya, aku melihat ada wahana rumah miring (ooh, rasanya sama seperti didufan), bedanya didalam isinya lebih bagus. Seingatku didalamnya terdapat robot-robot, patung orang dengan berbagai ciri khas mereka, dan creative design lainnya. Didalam aku hanya melihat-lihat sepintas, lalu bergegas keluar.

 

Kemudian aku menemui mamaku, untuk minta ditemani ke wahana roller coaster yg sangat tinggi dan panjangnya 765 meter. Nama wahananya Lethal Weapon. Jadi roller coaster tersebut tempat duduknya bergelantung, sehingga kaki kita menggelantung kebawah. Hiiiiii….ngeri juga sih ngeliatnya, sempet ragu juga, “naik….ngga…, naik…..ngga..” tapi penasaran juga sih. Akhirnya aku urung niat begitu melihat tracknya yg sangat tinggi dan berputar 360° sebanyak dua kali melingkar dan putaran putaran kecil seperti kabel telepon “aiiiiaaaayy”. Kalau tidak salah kecepatannya 85kilomenters per second, geezzzz…dengan melihatnya perut langsung terasa mules.

 

Lethal Weapon

 

Disaat aku berbalik, ternyata ada rekan kerja papa dua orang pria yg usianya kalau tidak salah 28th & 30th. Mereka baru saja selesai naik “that crazy roller coaster”. Mereka bilang seru dan tidak apa-apa, “aman!…ngga ngeri ko kalau keretanya sudah jalan, karena roller coasternya kenceng banget, jadi tak terasa tiba-tiba sudah selesai deh” sahut salah satunya. Yup..mungkin tidak terasa kalo memang tidur or pingsan diatas hahahaha.  “Well, alright, i rather try this crazy roller coaster”.

 

Disini antrian sangat sedikit sekali, tidak banyak orang yg ingin mencoba wahana ini. Sangat menguji adrenalin. Tak terasa aku sudah dekat untuk naik coaster tersebut dan tas aku titip ke mama yg menunggu dipintu keluar. Dengan ditemani oleh dua pria tadi, mereka sengaja naik kembali untuk menemaniku, padahal teman yg satunya lagi terlihat mukanya sudah pucat dan sebenarnya tidak ingin naik lagi, tapi dia dipaksa oleh temannya ini hahaha.

 

Tiba waktunya giliran kita untuk naik. Dengan jantung deg-degan dan rasanya ingin copot sebelum naik hahaha..sungguh terasa tegang sekali, sampai-sampai aku terus bertanya ke pria ini untuk memastikan kalau savety belt seatnya sudah terpasang dengan kencang dan aman. Semua sandal dan sepatu dilepas, mengindari terlepas atau terjatuh.

 

Perlahan-lahan kereta berjalan, aku masih menikmati, sambil baca bismilah, (hahahaha…) begitu kereta siap-siap meluncur dan berputar “wuuuuuuuusssssss”, aku langsung tutup mata dan sesekali mengintip kebawah (aanjroooott…kepala lagi berada dibawah) terus berputar-putar dan berbelok-belok, suara rasanya mau habis karena tak hentinya berteriak dengan kencang (hihihi).

 

“Hhhhh….akhirnya selesai juga penyiksaan ini hahahaha..”. Air mata sedikit keluar dari pinggiran mata karena terus-terusan teriak. Hehe..seru juga sih, “enak!.. hahahaha”, tapi kalau saat itu disuruh naik dua kali, mending ngga deh, “ampuun!!!”.

 

Mama sudah menanti dengan cemas. Begitu bertemu denganku dia langsung bertanya “Kamu ga ngeri ya, mama ngeliatnya aja serem, kenceng banget, udah tinggi, kaki gelantungan, diputer-puter lagi”, aku cuma bisa jawab “ampuun deh ma,..merem itu juga hahaha”.

 

Dari situ aku diajak untuk ke wahana Batman Adventure. Mama lalu membiarkan anak-anak muda untuk mencoba wahana-wahana lain, dan dia kembali menemui papa. Salah satu pria tadi tiba-tiba menggandengku, dan saat itu dia perhatian sekali. Sedikit bingung juga, lalu aku pelan-pelan melepas genggamannya. Meskipun pria ini tampan, dan aku belum punya pacar, hmm ngga lah, tipe playboy kayanya hehe.

 

just paid some bucks for this frame

 

this one is free with own camera lol

Antrian masuk Batman Adventure ini lumayan panjang, tapi kita terpaksa harus sabar. Karena ini wahana terakhir yg mungkin bisa kita coba. Wahana ini adalah permainan simulasi film Batman, sama seperti wahana Robocop di Dufan. Sayangnya saya tidak sempat mencoba wahana Wild West Falls Adventure yg katanya seru juga, dan 4D film Shrek. Papa dan mamaku sempat menonton 4D Shrek ini. Ya, sebaiknya orang tua masuk ke wahana yg seperti itu supaya aman. Wahana Superman Escape sengaja aku skip, karena melihatnya saja aku sudah ngeri. Superman Escape ini adalah roller coaster yg kecepatannya hampir sama dengan Lethal Weapon, yakni 100kilometers per 2 seconds. Dengan panjang lintasan 760meter dan tracking yg menanjak vertikal (180°), lalu menurun dengan sedikit berbelok.

 

Disini juga akan kita temui pawai tokoh-tokoh kartun Warner Bros “Looney Tunes“, tokoh Batman & Robin, Wonder Woman, Marilyn Monroe, juga tokoh film Scooby Doo serta masih banyak lagi. Mereka berjalan keliling sambil mengendarai mobil hias sesuai ciri khas dari masing-masing karakter.

(berikut beberapa foto pawai tokoh-tokohnya, sayang sekali saat itu hanya bisa mengabadikan dengan kamera hp, karena kamera pocket tertinggal dihotel)

 

Tak terasa hari sudah sore, dan kita semua harus segera berkumpul untuk pulang ke hotel pada pukul 5 pm. Seluruh peserta rombongan tour sempat berfoto bersama didepan air mancur. Sungguh melelahkan sekaligus menyenangkan.

 

Kesimpulannya, objek wisata Movie World ini hampir semua wahananya adalah roller coaster dengan berbagai macam tema permainan yg berbeda dan diberi nama judul film-film Hollywood. Juga terdapat wahana bermain untuk anak-anak.  

 

The End of Australian Trip… see you on the next journey ;)

Setelah selesai dari menonton Academy Police kita menuju ke wahana Scooby Doo. Wahana yg terlihat seperti rumah hantu dengan bangunan seperti kastil. Temboknya terbuat seperti dari batu, juga terdapat patung-patung prajurit mengenakan baju besi dan topeng besi, beserta pedang besinya. Disini antrian lumayan panjang. Banyak sekali pengunjung yg penasaran ingin masuk ke dalam wahana ini. Didalam bangunan tersebut, pada lorong antrian untuk menaiki kereta, terdapat layar tv besar sebanyak tiga buah pada sisi tertentu dan diputar film Scooby Doo versi manusia.

saat antrian scooby doo

Saat mengantri, kita bertemu owner perusahaan tempat papa bekerja beserta keluarganya. Aku mengajak ngobrol anaknya yg masih kecil, kira-kira usianya 6th. Dalam hati saya menebak-nebak, bakalan seseram apa nanti didalam. Herannya, anak ini berani sekali disaat aku tanya “hei, kamu tidak takut hantu?”…, dia menyahut,… “ngga, aku berani sama hantu”. Well, nampaknya anak ini cukup pemberani. Saat itu dia meminta untuk duduk bersamaku dalam satu kereta, mungkin karena dia sudah merasa dekat dan akrab denganku. Memang aku sangat suka dengan anak kecil, asalkan anak kecil yg tidak nakal hehe.

 

Untuk satu kereta berisi 3-4 org. Anak ini pisah kereta dengan papa dan mamanya, tapi pamannya berada satu kereta dengan aku di kereta berikutnya, menyusul papa mamaku yg keretanya percis dibelakang kita.

 

Begitu kereta perlahan berjalan, suasana terasa sedikit menakutkan. Terdengar suara-suara menyeramkan, dan muncul hantu yg keluar dari peti mayat “hahaha..” sedikit kaget, tapi aku rasa boneka hantunya tidak menyeramkan, anak ini langsung berlindung dalam pelukanku. Lalu aku rangkul dia supaya dia merasa aman.

scooby doo coaster

Saat itu kereta melesat dengan kencang, lalu perlahan-lahan berhenti dan menunggu antrian kereta sebelumnya yg lebih dulu berjalan didepan kereta kita. Kemudiannnn…, keretanya tiba-tiba naik ke atas, seperti naik lift. Laluuuuuuu………,“wuussssssssssssss”…… kereta tersebut meluncur mundur kebawah “AAAAAAaaaaaaaagggg….” huawakakakakakk… spontan aku berteriak dan kaget lalu tertawa. Sungguh lucu sekali, karena saat aku menoleh kebelakang untuk menyaksikan papa mamaku yg pucat pasi dengan mimik muka yg sangat tegang dan terlihat ngeri “huahahaahha”…tidak henti-hentinya aku tertawa terpingkal-pingkal (memang anak kurang ajar hihihi…).

 

Ternyata didalamnya adalah roller coaster mini, yg bergerak sangat kencang, dengan ruangan yg sangat gelap dan hanya diterangi oleh lampu-lampu laser yg bernari-nari diiringi lagu “Scooby Dooby Doo…where are you?..we got some work to do now. Scooby Dooby Doo…where are you?..we need some help from you now. Come on Scooby Doo, I see you, pretend you got a sliver” (by Third Eye Blind), sehingga jalur kereta saat itu tidak terlihat dan tidak terduga akan bergerak ke arah mana. Kita hanya cuma pasrah dan bersiap-siap menerima kejutan-kejutan didalamnya. Sungguh seru dan fun sekali. Saat itu, spontan aku langsung merangkul anak ini, karena memang bahaya sekali, bisa-bisa dia terbentur oleh badan kereta disaat kereta menukik sangat tajam.

 

Begitu keluar dari wahana ini, semua orang tua baik papa, mama, si big boss, dan rekan kerja papa pada mengupat “gebleeekk”, “gilaaa..”, “sialaaan..”, “ampuun deeh…”segala cacian keluar dari mulut mereka “huahahahaha…” lagi-lagi aku masih sempat tertawa melihat mereka semua yg pada kualahan dan terkejut atas apa yg mereka alami didalam. Mereka semua tidak menduga kalo wahana ini adalah roller coaster, mereka pikir adalah rumah hantu dan kita semua tidak membaca dengan jelas bahwa wahana ini adalah “Scooby Doo Spooky Coaster”.

 

Memang harusnya wahana tersebut tidak baik untuk usia tua yg mungkin kondisi jantungnya tidak kuat. Untung saja papa mamaku hanya sedikit shock, tapi alhamdulillah, mereka semua para orang tua keluar dengan sehat dan aman hehe :)

 

to the next theme park…

MOVIE WORLD

…continued

Begitu kita masuk ke dalam Movie World, “WoOOoaahhH….” aku seperti anak kecil yg sibuk menoleh kesana kemari, bingung mau kemana dulu, hahaha..tapi aku tidak lantas berlari kesana kemari (karena aku bukan anak kecil lagi) tapi aku tetap berjalan pelan mendampingi mama dan papa.
 

Wahana Academy Police

Tempat yg pertama kita kunjungi adalah “Academy Police“. Tanpa antrian yg panjang, kita segera masuk sambil bingung celingak celinguk “ini tuh ngapain ya?! hahaha..”. Awalnya tidak terbayang ini wahana apa, sampai akhirnya kita melihat didalam harus duduk seperti akan menonton pertunjukan lumba-lumba di Ancol “hahaha..” tapi disini didepannya cuma terdapat lapangan aspal dengan tiang bendera, alat bom jaman perang, serta  motor polisi yg ada boncengan disebelahnya, dan mobil polisi beserta setting area lapangan upacara yg terbuka. Disitu terdapat bangunan kantor polisi, serta gedung-gedung seperti di kota tua jakarta. Sedangkan posisi tempat duduk penonton bertingkat keatas dengan atap yg tertutup, sehingga aman dari hujan.

 
Setelah tempat duduk terisi penuh, lalu atraksi dimulai. Jadi ceritanya tahanan kabur dari penjara menggunakan motor, lalu mereka dikejar-kejar oleh mobil polisi, sehingga terjadi baku tembak. Mereka mengendarai motor dan mobil sambil berputar-putar, jumping, slalom dan tidak terhindarkan untuk menabrak-nabrak sesuatu yg pada akhirnya tahanan tersebut tetap berhasil melarikan diri. Kemudian terjadi percakapan dan action konyol dari para polisi tersebut. Karena kebodohan mereka, si komandan marah-marah, menampar dan memukul sampai mereka terjatuh-jatuh, meskipun demikian adegannya tidak terkesan kasar maupun sadis, melainkan mereka melakukannya dengan tingkah yg konyol, baik si komandan maupun anak buahnya.

 
Lucunya, ternyata mereka mengajak salah satu penonton untuk jadi relawan menangkap tahanan tersebut. Sampai akhirnya si penonton ini dilibatkan dalam aksi pengejaran. Tapi anehnya, orang tersebut selalu kena sial, ya dia jatuh dari gedung lah, kelindas motor lah, kena sasaran pukul yg salah disaat tahanan dan polisi saling baku hantam, sampai-sampai orang ini babak belur, lalu pria tersebut digotong oleh suster dan tim medis ke dalam ambulance, setelah keluar kepalanya sudah diperban, dan efek muka yg sedikit berdarah dan memar-memar “hahaha..”, akhirnya kita sadar kalo pria ini adalah bagian dari mereka yg sengaja duduk diantara penonton. Dalam atraksi, banyak sekali efek-efek seperti kebakaran gedung, lalu ada petugas pemadam kebakaran beraksi memadamkan api, semuanya sungguhan.

 
Jadi bisa dibilang, mereka adalah para stuntman. Sungguh seru sekali menyaksikannya. Penonton dapat dibuat tertawa terbahak-bahak, kaget, bingung, bergumam “wooow” lalu sesekali kita semua give them applause untuk atraksi-atraksi yg mengagumkan. Pertunjukan diakhiri dengan dijatuhkannya bom kedalam bangunan tempat tahanan bersembunyi dan akhirnya si tahanan tertangkap juga.

 

Pada akhir pertunjukan, semua pemain berbaris sambil berangkulan dan membungkuk untuk memberikan salam perpisahan untuk kita semua. “That was really nice entertainment, bravo!..two thumbs up for them”  :)  (big applause)

 

to the next theme park..

Day 4 

“Yippieeee…i’m going to Movie World today…WoOOoHooOoo”… i’m so excited on that time. 

  

Hari ini, hari terakhir kita di Gold Coast. Meskipun sudah rindu makanan Indonesia (nasi padang, ayam bakar, bakso, mie ayam, dsb..hehehe) tapi disini meninggalkan kesan tersendiri, selain udara dan lingkungan yg bersih, kotanya tenang dan nyaman. Seandainya Indonesia sebersih ini udara dan lingkungannya, pasti saya tidak pernah kepikiran ingin tinggal di Luar Negeri. Cuz, “I still Love Indonesia hehe…”. Saat itu suhu udaranya sedikit dingin, akan tetapi panas kota ini sama dengan Indonesia, bahkan dikala musim panas, terik mataharinya pun sangat membakar kulit. Saya sudah mencobanya ketika sedang menyewa bilik internet dipinggir jalan yg lokasinya besebelahan dengan hotel tempat saya menginap, sekedar untuk chatting dengan sahabatku. Saat itu masih pukul 10 pagi, kebetulan saya mendapat posisi duduk dekat luar, tak terasa panas terik menyengat tangan dan kakiku. Akhirnya segera mungkin saya menyudahi perbincangan saya dalam ruang chatting yahoo, disamping itu pula cafe net tersebut akan tutup pada pukul 11.30. Mereka hanya beroperasi dari pukul 8-11.30. Jam kerja yg sangat flexsible untuk anak-anak muda disini melakukan “part time job” mereka. 

  

(back to our topic)

Pagi ini, kita semua sarapan pagi di hotel, lalu semua rombongan diminta stand by di lobby hotel pukul 9.00. “Ya, kita akan berangkat ke Movie World“. Lama perjalanan kurang lebih 1 jam. Akhirnya setelah semua sudah berkumpul di lobby, kemudian kita semua naik ke bis kita masing-masing. 

  

Dalam perjalanan kita melihat ternyata di gold coast ini terdapat sirkuit balap international buat Formula1 yg lintasannya sengaja melewati beberapa ruas kota gold coast dan pinggiran pantai gold coast. 

  

Banyak sekali objek wisata keluarga di kota gold coast ini diantaranya adalah Movie World, Dream World, White Water World, Sea World maupun Wet ‘n’ Wild, ada juga Australian OutbackLe Mans Kart Racing untuk dewasa dan masih banyak lagi tempat lainnya. 

  

Untuk menuju ke Movie World, perjalanannya seperti kalau kita ingin ke airport di Jakarta. Jadi wahana permainan tersebut sengaja dibuat menjauhi kota, dan dibangun tak jauh dari masing-masing objek wisata. 

For more information you can open this link Gold Coast Theme Parks and this is for the theme park maps. 

  

movie world

Secara berurutan kita melewati Dream World, tak lama kemudian kita tiba di Movie World (wahana bermain keluaran Warner Bros) dan disebelahnya wahana bermain air (kolam berenang) dengan seluncuran yg sangat tinggi, nama permainannya Wet ‘n’ Wild. “hmmm..kayanya asik juga main seluncuran air disana”, sayangnya kita cuma punya waktu hari ini saja, jadi rasanya tidak akan terkejar untuk mencobanya. 

  

antrian

Setelah tiba di pintu gerbang Movie World, kita semua turun dari bis dan segera membeli tiket (Movie World Ticketing) di loket. Antrian lumayan panjang, tapi tidak sepanjang di Dufan hehe.. “wow, harga tiketnya mahal sekali”, hmmm wajar sih, karena arena bermain ini seperti Hollywood di kota GoldCoast.  

 

to be continued…

Day 3

Hari ini saya bangun pukul 7.30. Papa dan mama sudah siap lebih dulu, sementara saya baru bergegas mandi untuk segera sarapan pagi di Hotel Legends.

Studio Room (bed) - Hotel Legends

Dengan standard sarapan hotel bintang 4 1/2, hidangannya pun sudah tentu banyak variannya. Akan tetapi, menu sarapan yg selalu saya ambil hanyalah dua lembar roti, satu roti tawar dan satu lagi gandum. Lalu saya masukkan dalam toaster. Saya siapkan butter, strawberry and chocolate jam di piring. Serta scrable eggs plus segelas susu putih. 

  

Di meja berikutnya terlihat ada menu nasi goreng dan mie goreng, saya rasa itu menu khusus yg sengaja di request oleh perusahaan tempat papa bekerja. Sehingga benar-benar memenuhi selera orang Indonesia. Makanan tersaji dengan ala western dan eastern. Tapi saya rasa, saya tidak mungkin mencicipinya karena porsi makan saya yg memang tidak banyak. 

  

Setelah selesai sarapan, saya, papa dan mama memisahkan diri dari rombongan, beberapa keluarga yg lain juga sibuk dengan aktifitas masing-masing. Berjalan-jalan seputar hotel, dan melihat-lihat toko yg satu persatu mulai buka, sambil mencari beberapa souvenir untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. 

  

Mama sibuk mencari pajangan dan kristal-kristal kecil, saya sibuk mencari kaos bergambar lucu, dengan kualitas bahan yg bagus, akan tetapi tetap saja kaos tersebut rasanya tidak sebanding dengan harganya. Harga berkisar antara AUD$8-16 untuk 1 potong, sementara di jakarta kita bisa dapat 3-5 buah kaos dengan jenis yg sama. Kemudian saya putuskan untuk membeli 10 kaos sesuai dengan ukuran teman-teman saya. Rata-rata ukuran tubuh teman-teman saya antara no. 8-12, nampaknya saya harus mencari dikategori anak anak. Lalu saya membeli juga beberapa gantungan kunci serta 1 buah snowball, special untuk sahabat baik saya. Sedangkan papa asik ditempat elektronik dan tempat yg unik-unik. Temen-temen papa pun terlihat ada disana, sedang asik bertanya-tanya pada penjual toko mengenai ramuan obat ginseng, minyak ikan hiu dalam bentuk kapsul bening (kapsulnya seperti vitamin rambut) yg katanya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Disitu pun papa ikut menyimak. Banyak dari mereka yg membeli 1 sampai 3 botol. Papa memutuskan untuk tidak terbuai membeli obat cina tersebut. 

  

Hari menjelang siang, didepan toko ada beberapa orang yg menawarkan berbagai macam tour. Saat itu kita interest untuk mencoba keliling kota dengan “aqua duck” bis amphibi yg akan membawa kita city tour dan berlanjut melewati laut. Tiket buat family sekitar AUD$86. Harga yg lumayan mahal bagi saya hanya untuk tour yg singkat. Tapi kita semua lumayan terhibur dengan atraksi kecil disaat mobil tersebut akan meluncur ke laut. 

Selesai tour, kita berjalan menuju pantai. Lalu mampir di restaurant KFC, kita pikir pastinya ayam KFC lebih kecil porsinya dan pas untuk kita sekeluarga. Saat itu kita memesan menu paket family, 5 porsi ayam 2 kentang dan 3 minum. Tanpa chilli sauce dan hanya ada tomatoes sauce

  

Begitu order keluar, “waah!..ayamnya besar-besar sekali, membuat kita eneg begitu melihatnya “benar-benar ayam suntikan”, gumamku. Dua ayam kita makan bertiga, itupun sudah kekenyangan ditambah kentang porsi besar tadi. Makan ayam dan kentang tanpa saus sambal terasa blenger (alias eneg). Jadi sisa 3 potong ayam tadi kita bawa pulang, setidaknya bisa dimakan lagi nanti malam. 

  

Papa memutuskan untuk kembali ke kamar, dia lebih memilih istirahat di hotel. Sementara saya dan mama tidak mau melewatkan moment ini. Kita masih terus menyusuri pertokoan maupun mall yg berada dikota kecil tersebut. 

  

Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Saya dan mama kembali ke hotel sekedar ingin mandi dan mengistirahatkan kaki. Pukul 7 malam, kita coba menghangatkan ayam KFC tadi dalam microwave. Memang kamar hotel tipe Studio Room kita, terdapat kitchen set ukuran kecil beserta peralatan dapurnya. Tak lupa kita membeli nasi putih dari restaurant yg lokasinya percis disebelah lobby hotel. 

Studio Room (kitchen) - Hotel Legends

Saya kembali ke kamar. Mama papa sudah menunggu dimeja makan. Setelah kita menyantap ayam beserta nasi putih dan saus sambal yg saya beli direstaurant tadi…”huueekk..” rasanya tidak karuan. Baru kita colek ayam tersebut kedalam sambal…kita semua spontan tidak mau meneruskan. Karena sambalnya sungguh tidak enak. Akhirnya kita buang sisa ayam tadi yg tidak mungkin kita makan lagi. “Aaaaaarrgghh we need chilli sauce sahutku. Semua makanan rasanya hambar. Mama teringat kalo kita sempat membawa Pop Mie dari Indonesia. “yap!…pop mie plus nasi adalah menu yg paling nikmat”. Lalu setelah kita selesai makan, lagi-lagi papa lebih memilih menghabiskan waktu ngobrol dengan rekan kerjanya di cafe hotel (biasalah, laki-laki malas berjalan-jalan jauh). Sementara saya dan mama memilih kembali berjalan menikmati suasana malam dan meneruskan berbelanja. 

  

Seusai berjalan-jalan hingga pukul sembilan, Saya dan mama menemui papa. Ikut menikmati perbincangan santai mereka. Salah satu teman papa berencana untuk ikut rombongan tour ke Movie World esok hari, mereka pun mengajak kita untuk ikut. 

  

Hari ini kita dan beberapa keluarga lain tidak ikut rombongan tour ke Sea World dan Dream World.  Nah, lagi-lagi saya merayu papa supaya besok kita bisa ikut tour beserta rombongan lainnya, tentu dengan expense sendiri sama dengan keluarga yg lain. Karena besok hari terakhir kita disini. 

 to be continued 

 

Day 1

 Jakarta to Kuala Lumpur, Malaysia (Transit di Kuala Lumpur International Airport)

 

Kita menggunakan Malaysian Airlines dan transit di KLIA. Sungguh pengalaman yg luar biasa begitu pertama kali menginjakkan kaki di bandara tersebut. Architecture Design yg sangat mewah, elegant dan keren sekali, mengundang mulut ini berdecak kagum, begitu turun dari Transfer Train yg menghubungkan kita dari Gate satu ke Gate lainnya. “Cool”..mata rasanya tidak bisa berhenti memperhatikan keunikan-keunikan yg ada dibandara tersebut. Seperti tidak mau kehilangan moment yg jarang aku temui. Aku lalu mengambil beberapa foto dengan mama dan papa, ketika kita berada di dalam transfer train dan setelah keluar dari train tersebut. Norak memang, tapi mungkin begitulah pengalaman beberapa orang begitu pertama kali menginjakkan kaki di Negara lain.

 

Disana terdapat beberapa fasilitas access internet gratis yg berada dibeberapa ruang tunggu, membuat aku merasa nyaman harus menunggu pesawat kita untuk penerbangan selanjutnya ke Melbourne, Australia. Saat itu waktu menunjukan pukul 11 malam di KL. Waktu perjalanan yakni 3 jam, dan kita dari Jakarta berangkat pukul 7 malam. Perbedaan waktu antara Malaysia dengan Indonesia kurang lebih 1 jam. Penerbangan kita selanjutnya yakni masih 2-3 jam lagi. Kita berangkat dari KL ke Melbourne pada jam 1 dini hari.

 

Sambil menunggu boarding pesawat, aku menyempatkan diri mengakses internet. Saat itu aku mengecek beberapa email, dan mengirim offline messages di Yahoo Messenger buat seorang teman baik untuk memberikan laporan keberadaan aku. Saat itu aku hanya ingin share dengan dia seorang.

 

Day 2

Berjalan menuju boarding room, kita sempet melewati flat escalator yg digunakan apabila kita males berjalan, jadi cukup kita diam…kita bisa sampai pada sisi selanjutnya.

Hmm..lumayan bisa mengistirahatkan kaki sebentar dan meringankan kaki bagi yg membawa koper cukup berat.

 

Lalu kita masuk menuju ke dalam pesawat. Sungguh baru kali pertama aku melihat isi pesawat yg begitu besar dan kursi penumpang yg begitu banyak. Pada bagian depan khusus penumpang First Class, ditengah-tengah untuk Business Class, dan paling belakang Ecconomy Class.

 

Untuk First Class, jarak tempat duduk sangat luas, bahkan kursinya bisa dibuat posisi tiduran, kursinya pun lebih bagus, dengan fasilitas TV dan meja khusus untuk tempat menaruh laptop. Sedangkan tempat duduk di kelas ekonomi maupun bisnis, sama-sama terdapat tv, telepon dan menu games. Hanya saja dengan fasilitas lebih sempit jarak tempat duduknya, kursi yg berbeda, dan meja untuk tempat makan yg simple.

 

Waktu perjalanan kurang lebih 8 jam 20 menit. Cukup melelahkan dan boring. Berjam-jam hanya bisa main games, nonton film, dengerin musik, dan sesekali tidur, akan tetapi tetap saja tidak bisa tidur dengan pulas, badan terasa pegal tidur dengan posisi duduk.

 

Tak terasa sinar mantahari masuk melalui kaca jendela pesawat, saat itu aku dan papa mama mendapat tempat duduk ditengah, pemandangan awan diluar pesawat hanya bisa kita lihat dengan jarak pandang yg cukup jauh, tapi hatiku sudah mulai tenang, hanya tinggal beberapa jam lagi pesawat tiba di Melbourne.

 

Pesawat landing pada pukul 10.00, dari situ kita beserta rombongan masih harus naik bis 1.30 menit lamanya perjalanan sampai tiba di kota Gold Coast.

 

Gold Coast adalah satu-satunya kota wisata keluarga yang ada di Negara Australia. Dalam perjalanan kita sempat mampir ke Queensland – Conservatorium, sekedar bersantai sejenak diarea tersebut sambil berfoto ria didepan sungai dan melihat kota dengan teropong kecil.

Queensland Conservatorium

Lalu kita melanjutkan perjalanan lagi, kemudian lagi-lagi singgah ditempat seperti restauran dan toko yang menjual souvenir-souvenir. Toko itu hanya satu-satunya yg berada diantara pohon-pohon tinggi berwarna hijau dan ada juga disisi lain pohon-pohon yang terlihat gersang berdaun kuning dan bahkan tidak berdaun.

 

Sambil berputar-putar, akhirnya saya menemukan boneka koala, souvenir ciri khas Australia selain kangguru. Saya membeli dua buah, satu untuk titipan teman saya, yg satunya lagi entah nanti buat siapa saja yg mau. Harga berkisar AUD$2-3. Setelah aku, papa dan mama menikmati minuman fresh orange sekedar menghilangkan rasa haus, aku pergi menuju bis. Diluar bis..aku sempat mengobrol bersenda gurau dengan supir bus yg usianya sudah sangat tua bahkan terbilang kakek-kakek, tetapi masih bekerja sebagai driver travel bus, salut.

 

Tak lama kemudian, kita melanjutkan perjalanan kembali sampai akhirnya tiba di kota tujuan, Goldcoast. Ya, kota yg sepi, dan damai. Sangat menyenangkan untuk refreshing, karena penduduknya tidak terlalu banyak. Disisi-sisi jalan banyak terdapat toko-toko dengan merk-merk terkenal. Sungguh pemandangan kota yang asik dan nyaman.

gold coast beach

Setelah Check-In di Hotel Legends, kita dan rombongan masuk ke kamar untuk berganti pakaian dan pergi mencari makan siang di luar.

 

Sambil berjalan kaki, tak jauh dari hotel banyak restauran Chinese Food, toko-toko souvenir, baju, sepatu, maupun mall.

 

Saat itu kita memilih salah satu restauran Chinese, dengan sebelumnya memastikan makanan yg kita makan adalah bukan b***. Tapi bismillah saja, karena mungkin sulit mencari restaurant, yg memang tidak menjual sama sekali menu b tadi. Jadi kita pun sangsi, penggorengan yg meraka gunakan juga dipakai untuk memasak makanan b juga. “Aaah..biarlah”, lalu kita pesan capcay, kangkung cah, dan nasi goreng teri. Hehe…sudah dipastikan, tanpa b***. Lagi-lagi sebelum makan tak lupa membaca “Bismillah”.

Standard makanan disini berkisar antara AUD$6-15. Porsi satu piring menu dapat dikonsumsi untuk 3 orang. Jadi apabila ingin menghemat, sebaiknya pesan saja 2 menu untuk ber-3.

 

Sulitnya disana bagi orang Indonesia yg terbiasa dengan makanan spicy dan hot. Disini semua makanan disajikan tidak pedas, bahkan ketika aku meminta chilli sauce, rasa yg dikasih hanya berasa asin, dengan sedikit sekali terasa pedas. Jadi, saran saya bagi kita orang asia yg hendak berpergian ke LN, dan memiliki hobi makan yg pedas-pedas, mungkin bisa membawa beberapa botol saus sambal sendiri dari Indonesia. Mudah-mudahan peraturan dipihak imigrasi tidak terlalu ketat.

 

 

Note :

  1. Bawalah air aqua jika hendak pergi ke toilet umum disaat ingin berbelanja atau berjalan-jalan cukup jauh dari area hotel. Dikarenakan sudah tentu semua toilet disana tidak menggunakan air, tapi hanya tersedia tissue. Atau sebaiknya membawa tissue basah sebanyak-banyaknya.
  2. Membawa sambal saus dari rumah bagi yg hobi makan pedas. Dikarenakan beberapa kota di negara tertentu, hampir di semua supermarket dan restauran tidak terdapat saus sambal yang rasanya seperti di Indonesia.
  3. Membawa kamera pocket dengan battery yg bisa dicharge
  4. Alangkah baiknya jika memiliki travelling stalker. (stop kontak dengan multi fungsi). Alasannya, terkadang dikamar hotel hanya tersedia stop kontak satu buah, atau dengan colokan yang berbeda. Sungguh repot jika kita harus membeli lagi disana, sudah tentu harganya pun lebih mahal.

 

Hari menjelang malam. Aku dan mama lebih menghabiskan waktu jalan mengelilingi pertokoan di sisi-sisi jalan kota tersebut. Lalu kita berjalan melewati pantai sekedar ingin meng-explore dan mengamati seluruh ruas jalan maupun apa-apa yg berada disana. Sehingga keesokan harinya kita bisa dengan hapal mengetahui tempat-tempat dan lokasi yg ingin kita kunjungi. Sementara papa lebih memilih bercakap-cakap dengan rekan kerjanya dan si owner perusahaan tempat papa bekerja, sambil duduk menikmati cappuccino di coffee shop yang letaknya persis di bawah hotel legend. Kafe tersebut dikemas dengan tempat duduk open air, sehingga lebih leluasa pengunjung dapat menikmati coffee dan makanan kecil sambil menikmati suasana malam.

 

Disaat aku dan mama berjalan menyusuri jalan utama. Kita temui banyak juga terdapat night club dan Hard Rock Café. Mendekati area pantai, terdapat Mc Donalds, KFC dan Kafe-kafe kecil.

 

Waktu menunjukkan jam 21.00, semakin terlihat ciri khas kota kecil yang berpenduduk sedikit bahwa aktifitas berjualan maupun rumah makan satu persatu mulai tutup. Meskipun aku dan mama masih ingin meneruskan berjalan kaki mengitari kota kecil tersebut, rasanya sudah tidak mungkin. Lalu kita memutuskan untuk kembali ke hotel.

to be continued

Hmm…ga pernah terpikir olehku berkesempatan untuk pergi ke Luar Negeri. Tiba-tiba saja terlontar dari mulut papa berita yg menggembirakan, “Tahun ini, dari kantor papa akan ada family tour ke Luar Negeri”, begitulah kiranya percakapan kita diruang santai keluarga. Lantas mendengar berita kejutan dari papa, mukaku masih bengong..dan berusaha santai menanggapinya. Dalam hati saya bicara “aah pasti ini sesuatu yg blur..dan belum pasti kejelasannya.”  Akupun memandang muka mama yg terlihat datar hehe..mungkin memang itu ciri keluarga kita. Apabila menerima suatu kejutan, tidak dengan serta merta menelan berita gembira itu, meskipun tidak dipungkiri, hati ini rasanya ingin melonjat tinggi setinggi-tingginya, saking girangnya. “cihuuuyyy!” itulah ekspresi yg tepat untuk menggambarkan kegembiraanku.

 

Lalu aku dengan sedikit menunjukkan ekspresi gembira setelah beberapa menit (trying to be cool) aku bertanya ke papa, “memang rencananya mau kemana pah?”, papa menjawab “around eropa kayanya”… Waaah..mata ini rasanya semakin berbinar-binar dengar kata eropa. Papa menambahkan lagi, “rencananya sih mau ke Paris-France; Milan, Rome- Italy; Madrid–Spanish; dan Amsterdam-Netherlands. Kembali wajah papa penuh antusias menceritakan rencana tour tersebut. Papa menjelaskan, boleh membawa 1 anak yg belum menikah. “asiiik…berarti aku termasuk donk”, papa mengangguk dengan muka penuh senyum. Percakapan berakhir dengan pengharapan dan keceriaan diraut wajah kita semua. Time to sleep.

________________

 

 

Beberapa hari berlalu…datanglah berita kurang menggembirakan. Papa kembali menyampaikan kalau ternyata anak yg dibawa, tidak boleh diatas usia 19Th. “oooh no,…pupus sudah harapanku dapat liburan gratis ke Luar Negeri”, usiaku sudah menginjak 25th saat itu. Dengan wajah memelas aku merayu papa “pa, aku ikut ya..papa bayarin aku.” Meskipun aku tahu keuangan papa sudah tidak memungkinkan, aku lihat wajah papa seperti tidak mau mengecewakan anaknya. Karena dia sudah memberikan pengharapan yg tinggi diawal dia menyampaikan kabar liburan ini. Akhirnya beliau mengangguk tanda setuju. “yipppiieee…I’m going to Paris…one of my dream when I was kid, and soon it will be come true”. Terima kasih papa.

 

Tidak lama waktu berselang, ternyata perusahaan kerepotan mengurus VISA untuk perjalanan ke Europe buat 200 org dengan deadline yg sudah sangat dekat. Pihak travel kali ini kurang bagus kerjanya, sampai-sampai owner perusahaan tempat papa bekerja marah besar dengan pihak travel agent tersebut, dikarenakan sebagian uang sudah masuk kesana. Terpaksa, alternatif negara harus berubah. Pilihannya adalah Jepang atau Australia. Dengan segala pertimbangan, tercapailah keputusan akhir. Kita ke Gold Coast, Australia.

to be continued…

My First Flight

air efata

 

Satu kata pertama begitu dengar kata “pesawat”, “hiii takuttt…!!!”. Padahal pesawat itu transportasi yg paling cool dan keren yg bisa kita bayangin. Entah kenapa ko rasanya aku takut sekali untuk naik pesawat, sampai akhirnya temanku yg memang ex-pramugari meminta aku menemaninya berobat ke Surabaya.

 

 

Tanpa berpikir macam-macam dan takut naik pesawat, aku mengiyakan ajakan dia. Kebetulan dia memang sangat ahli urusan booking pesawat dan hotel. Sangat-sangat tipe well planning. Sehingga saat itu aku hanya terima beres segala sesuatunya.

 

Hari keberangkatan tiba. Dengan janjian di terminal keberangkatan untuk Air Efata (sekarang maskapai tersebut sudah tidak ada lagi), kita bergegas untuk check-in. Memang temanku itu sungguh cekatan, semua urusan dia yg handle, aku cuma bisa ngikut dibelakangnya, dan feel save.

 

Sudah cantik, pinter, postur tubuh tinggi, gesit, cekatan, berbeda dengan lainnya, karena dia lulusan S1, menekuni profesi ini hanya karena hobi dan interestnya dalam hal travelling. Meskipun sudah menikah, tapi penampilannya selalu terlihat muda untuk wanita seumurnya. Sungguh pilihan yg tepat bagi sang suami yg bergelar Professor itu, menjadikan dia istrinya.

 

Lalu masuklah kita kedalam kabin pesawat, dan menempati seat yang tercantum pada tiket. Meskipun rasanya takut bukan main, tapi aku lebih memilih duduk didekat jendela. Selain aku tidak suka duduk diposisi dekat jalan yg sering untuk lalu lalang. Posisi dekat jendela adalah paling nyaman dan dapat menengok pemandangan diluar. Untungnya temanku yg cantik itu sangatlah dewasa dan mau mengalah, jadi posisi dimanapun bukan masalah baginya, “thanks Sis!”.

 

Begitu pesawat pelan-pelan berjalan, rasa tegang semakin memuncak, dalam hati spontan langsung berdoa, “hahaha..maklum, this is my first flight“. Sungguh norak dan malu-maluin. Dengan pasang muka sok cool tapi temanku ex-pramugari itu sadar kalau aku memang takut dan tegang, sesekali dia berusaha menggoda dengan menakutiku.

 

Begitu pesawat mulai jalan kelandasan pacu, perasaan semakin tidak karuan, dengan malu-malu aku memegang erat telapak tangan temanku itu, lalu dia menyambut genggamanku yg semakin erat, tanda dia paham aku sungguh sangat takut terjadi apa-apa saat pesawat mulai take-off.

 

“Hihihi..”, selama menggengam, temanku mengusap-usap tanganku dengan tangan satunya lagi dan berucap, “kasian, it’s all right“. Lagi-lagi dia masih jahil dengan mengeluarkan suara-suara sambil memandang ke arahku “gruduk..gruduk..duaarrr”, dasar pramugari jahil, bagi dia sang pramugari, didalam pesawat adalah jiwanya, mungkin rasa takut sudah tidak ada padanya. Salut untuk para pramugari yg sudah terbiasa mengalami berbagai kendala didalam pesawat.

 

Jadi kesimpulannya, naik pesawat itu paling tidak enak sewaktu take-off  karena semua body pesawat terasa berguncang, dengan posisi menanjak, dan bunyi mesin yg lumayan terdengar disaat memacu kecepatan. Itu terkadang membuat kita tidak nyaman. Tapi setelahnya. “Wow..sungguh pengalaman pertama yg mengagumkan”. Dari balik jendela aku memandang ke arah luar, perlahan-lahan hamparan kota jakarta dan ruas-ruas jalan, semakin mengecil. Pesawat mulai semakin lama semakin mencapai ketinggian maksimal. Lambat laun mulai menembus awan. Terlihat hamparan awan putih bersih bak permadani yang luas sekali. Aku mulai duduk dengan tenang dan sedikit berbincang-bincang dengan temanku. Rasanya aku tidak akan takut lagi, dan mulai penyesuaian dengan penerbangan pesawat. 

 

Japanese room

“Ok, penerbangan pertama aku berjalan mulus, landing dengan selamat tiba di bandara Ir. Juanda, Surabaya”. Dengan menggunakan taksi, kita menuju Hotel Garden Palace  di Jl. Yos Sudarso 11. Hotelnya sangatlah bagus, saat itu temanku memesan kamar Deluxe Theme Rooms dengan memilih kamar japanese style. Suasana kamar yg hangat dan romantis, bagi saya “it was very cool room“. Menu breakfastnya pun enak, standard hotel bintang 4. Semua temanku yang book, “she’s pay everything!..geezz“. Mungkin karena ini untuk kebutuhan dia berobat. ”Hmm..sungguh servis yg mengagumkan..” (aku bergumam dalam hati). Akhirnya malam itu juga temanku berobat, dengan banyak kejadian aneh dan lucu yg kita alami selama berobat, setelah kita selesai memesan delivery order dari KFC.

 

Keesokan harinya kita sudah harus pergi meninggalkan Surabaya. “Hhh..waktu yg singkat, seandainya masih bisa lebih lama lagi, sambil liburan di Surabaya”. Rencana membeli Bebek Kayu Tangan yg terkenal di Surabaya itu tidak kesampaian dikarenakan waktu yg terbatas.

 

Masih di bandara Ir. Juanda, temanku membelanjakan aku sejumlah oleh-oleh untuk dibawa pulang, dari mulai makanan kering sampai mangga, buah kesukaanku. Meskipun awalnya aku menolak-nolak, tapi dia insist aku harus mau. “Makasih ya !”, lalu dalam hati aku berkata, “oneday, aku akan selalu berhutang padanya, dan akan segera membalas kebaikannya”. Itu prinsipku. Akhirnya kembalilah kita ke Jakarta dengan selamat. Aku berjanji akan melakukan perjalanan kembali, dengan pengalaman yg lebih seru lagi.

-xoxo-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.